9 Tips Merawat Pendopo Joglo

photo-1

RADJAPENDAPA – Anda sudah punya joglo atau pendopo yang pakem? Yang menggunakan kaidah dan tata cara yang betul dalam proses pembuatan dan ukuran-ukurannya? Yang lengkap unsur-unsurnya? Soko guru, blandar, pengeret, dodo besi, sundukan, tumpangsari, dudur, soko rowo/soko pengeracik, resplang, umpak dan segala kelengkapannya? Jangan biarkan joglo pendopo itu merana, tidak dirawat, tidak dipelihara, dan tidak ada maintenance.

IMG_6015

IMG_6003IMG_5996

IMG_5995

Barang apa saja, jika tidak dimaintain, ujung-ujungnya rusak, kehilangan estetika dan tidak aman. Mobil saja, butuh perawatan! Kalau tidak dirawat, catnya kusam, kacanya berjamur, bannya rusak, elektriknya kacau, bahkan mesinnya juga bisa berfungsi dengan optimal. Pendopo-joglo pun begitu.

Pertama, soko guru, empat tiang penyangga utama yang ukuran kayu-kayunya paling besar dan paling menonjol dalam konstruksi joglo dan pendopo. Pastikan tidak kusam, jika perlu diminyaki, ada monyak kayu yang melindungi kayu dari cahaya matahari, dan sekaligus melindungi kayu tatkala cuaca berubah menjadi sangat dingin. Di lap, tetapi jangan menggunakan kanebo yang dibasahi air. Karena kayu itu hukumnya tetap tidak boleh diairi, kayu kalah dengan air dan api. Kecuali ada noda yang tidak bisa dibersihkan dengan lap kering, boleh dengan lap basah, lalu cepat-cepat dikeringkan dengan lap kering.

Kayu itu sifatnya menyerap air. Dan kalau sudah dikuasai air, dia cepat rusak, keropos dan membengkak. Dari atas sampai ke ujung umpak, dibersihkan agar warnanya tetap moncer.

Kedua, tumpang sari juga perlu dibersihkan. Biasanya ada sarang laba-laba (orang Jawa sering menyebut sawang), itu harus dibersihkan secara rutin dengan sapu panjang. Kalau sudah berusia lebih dari setahun, ada baiknya di polish lagi dengan minyak kayu. Biar kalau malam tersorot lampu display, memantulkan cahaya bening kecokelatan yang indah.

Paling sering, ukiran-ukiran tumpangsari itu dijadikan sarang tawon. Nah, hati-hati cara membereskan tawon. Sebaiknya dicek, selagi masih awal-awal, belum jadi rumah beneran, sebaiknya dihancurkan dulu. Kalau sudah jadi rumah dan beranak pinak, makin bahaya membersihkannya. Kalau hendak menghancurkan sarang tawon, disarankan malam hari, lampu dimatikan, cukup pakai senter, lalu bawa alat jarring, seperti yang dipakai untuk menangkap kupu-kupu. Masukkan semua rumah tawon itu ke dalam jarring, lalu dipelintir, dan dicabut. Ini harus sangat hati-hati, karena tawon itu pasti marah. Dengan jarring, kalaupun marah, dia hanya masuk di jarring.

Ketiga, dodo besi atau dodo peksi, tempat untuk menggantung lampu kerekan khas Jawa itu. Dodo besi biasanya menjadi focus orang melihat ceiling tumpangsari. Jadi harus dijaga tetap bersih, mengkilap, dan setiap hari terkena sorotan lampu yang paling banyak. Poles, pakai kuas dan cairan polish, biar keren.

Keempat, pastikan atap genting tidak bocor. Sekali lagi, air adalah musuh utama kedua dari kayu, setelah api. Hindari terkena air. Hindari bocor atap, karena itu ketika atap bocor, harus diperbaiki lebih cepat lebih baik. Bagaimana caranya? PAkai tangga yang tingginya minimal 6-8 meter, masuk lewat lubang control yang biasanya ditempatkan di tepi kiri kanan tumpangsari. Di cek di atasnya, ada yang bocor apa tidak. Ditandai, genting nomor berapa dari kiri, kanan dan atas. Nanti dari luar baru diganti, atau ditata lagi, siapa tahu hanya meleset karena angin atau benturan dengan barang lain.

Kelima, lihat umpak, penyangga soko guru. Pastikan keempatnya balance, rata-rata air, pakai waterpass atau bisa juga dengan selang. Lihat tinggi rata-rata airnya, masih stabil apa tidak. Bisa jadi, kalau salah konstruksi, kepadatan tanah berbeda, fondasi tidak standar, ada yang turun. Jika turun satu, mungkin masih bisa diakal. Tetapi kalau turunnya dua soko, dan membuat posisi joglo pendopo miring, disarankan dibongkar pasang lagi. Itulah mengapa memilih posisi tiang soko itu harus betul-betul pas.

Keenam, resplang, itu adalah pemanis di ujung titik air. Pastikan semuanya bagus, dan boleh dipoles atau di cat mowilex baru, agar warnanya cantik lagi. Resplang itu bidang yang paling sering terkena air, pada saat hujan turun. Pastikan semua tidak ada yang keropos. Biasanya problemnya hanya warnanya lebih memudar, lebih hitam berlumut, karena memang sering bersentuhan dengan air hujan.

Ketujuh, sundukan dibersikan di kolong atasnya. Itu biasanya tempat mangkalnya debu, kotoran burung, atau kelelawar, yang membuat wajah joglo pendopo anda kelihatan tidak terawatt, bau dan tidak sehat. Sundukan adalah kayu melintang di bawah blandar yang berfungsi sebagai penguat, agar kaki-kakinya tidak bergeser sedikit pun.

Kedelapan, genting kalau masih satu tahun dan di cat saat pemasangan, masih aman-aman saja. Tapi kalau mau lebih cling lagi, ya harus dicat ulang. Terutama di daerah-daerah yang curah hujannya tinggi.

Kesembilan, usuk reng, kayu penyangga atap genting, juga harus dicek. Adakah yang bengkok? Adakah yang keropos? Adakah yang bengkak? Kemasukan air? Atau malah tumbuh beberapa tanaman dan berlumut? Cepat segera diurus, itu bisa membahayakan orang yang tinggal di dalamnya.

Sebenarnya berapa lama joglo dan pendopo itu sudah saatnya service? Seperti kalau mobil baru pada kilometer 5000 dan 10.000 harus sudah di tune up general? Satu tahun, sudah saatnya dicek satu per satu, dipastikan semua aman, baik, estetik dan keren. Selamat mencoba!

Kalau masih belum bisa, atau tidak yakin, silakan panggil tim kami, www.radjapendapa.com. Gallery Cikeas Raya, Jl Letda Natsir 36A, Gunung Putri, Kab Bogor. Selain creator joglo pendopo, pembuat dan pejual joglo pendopo, kami juga melayani jasa maintenance. (*)

Leave a Reply