Kayu Jati, Bahan Soko Guru Joglo-Pendopo

RADJAPENDAPA – Apa sih yang membuat mahal dari pembuatan pendopo dan joglo? Kok harganya sampai ratusan juta? Bahan miliayan rupiah, untuk soko guru yang besar dan bentangan yang luas? Poin apa saja yang menjadikan arsitektural tradisi Jawa yang sudah ada sejak zaman Majapahit itu makin selangit?

Kayu-Jati

Kayu-Jati-001Kayu-Jati-002

Kayu-Jati-003

Kayu-Jati-004

Pertama, kayu-kayu jati besar yang lurus dan panjang itu makin langka. Kalau hunting dari kampung ke kampung, semakin jarang bisa menemukan jenis kayu jati yang bisa dijadikan tiang (soko guru), blandar (bentangan atas), sampar (bentangan sayap), dudur (bentang limasan). Kalau pun ada, itu harganya “Masya Allah”, mahalnya seperti memakan sambel mercon. Nyaris tidak masuk akal. Tetapi kalau tidak mau ambil, ya tidak akan bisa mendirikan joglo pendopo.

Kedua, jumlah kubikasi kayu yang dibutuhkan juga puluhan kubik (m3), dengan berbagai ukuran yang semuanya harus solid. Bukan kayu sambungan, karena kekuatan sambung menyambung kayu itu tidak bisa dijamin. Berbahaya, jika unsur-unsur pilar utama penyokong berdirinya joglo pendopo itu harus disambung. Sementara mendapatkan potongan kayu yang panjang, lurus, diameter/lingkaran besar, tidak gampang.

Ketiga, seni ukir yang dipahat di atas kayu-kayu mahal itu juga mempengaruhi. Ada tiga model ukiran di Jawa, berdasarkan masa kejayaan masing-masing kerajaan. Ada yang model Majapahitan, dengan sulut dan ukir yang kaku, tidak ada yang meliuk sampai 360 derajad. Ada model Mataraman, yang sering disebut Jogja-Solo, yang masih ada bekas peninggalannya di istana Kasultanan Jogja, Paku Alaman Jogja, Mangkunegaran Solo dan Kasunanan Solo.

Ada juga model Kudusan, yang ukirannya terpengaruh oleh budaya China, setelah kedatangan Laksamana Cheng Ho, dan membawa salah satu pasukannya yang pintar mengukir. Namanya: The Ling Sing, yang acap dilafalkan oleh orang Kudus dengan Kiai Telingsing. Saat ini nama Telingsing itu diabadikan sebagai nama jalan yang persis lanjutan Menara Kudus, ke perempatan Jl Sunan Kudus dan Telingsing.

Keempat, kualitas kayu jatinya juga sangat menentukan. Ada yang soko-sokonya penuh dengan lingkaran tahun, istilahnya banyak “mata.” Yang seperti ini dianggap berkualitas rendah. Sedang yang seratnya padat, tidak ada cela, tidak ada mata, tidak ada lingkaran umur kayu. Tetapi mencari yang spesifikasi seperti ini, tidak mudah, sekalipun punya duit.

Kelima, usuk-usuk yang berukuran besar, tentu akan menambah gagah posisi pendopo dan joglo itu. Anda tertarik membangun joglo? Nah, perhatikan poin-poin di atas. Jika perlu Anda ikut proses penebangan pohon dan pengukuran yang pas agar tidak ada satu jengkalpun yang tersisa. Juga menghindari penipuan, apalagi tidak dikontrol.

Kami, www.radjapendapa.com, sering melakukan pengukuran dan penggergajian di tempat. Yang dilihat pohon saat berdiri itu lurus, tidak ada bengkok dan tidak ada cela, belum tentu saat dirobohkan itu akan tetap lurus. “Di situlah seninya,” kata Eleonora Aprilita, pemilik CV Radja Pendapa Indonesia. @noraaprilita @radja_pendapa, email: pendapa.indonesia@yahoo.com. (*)

Leave a Reply