Rumah Kayu, Tips dan Karakternya

RADJAPENDAPA – Indonesia adalah Negara beriklim tropis, sehingga stok kayu cukup melimpah. Tetapi, tidak semua orang tertarik membangun rumah kayu. Karena perawatan yang lebih ekstra, dan tidak tahan lama seperti bahan batu, beton, besi dan semen. Kayu juga rentan dengan rayap, thether (bubuk), lapuk karena basah atau lembab, dan mudah terbakar jika disandingkan dengan unsure api. Dan yang pasti, harga kayu semakin melangit, semakin tak terkejar, karena bahannya juga harus diproduksi alam dalam jangka waktu yang panjang.

rumah-joglo

Indonesia masih beruntung, banyak kayu keras yang hidup di tanah air ini. Persis kata Koes Plus, dalam lau “Kolam Susu.” Kata group music tempo dulu itu, “Orang bilang tanah kita tanah surge,
tongkat kayu dan batu jadi tanaman!” Lagu itu tidak terlalu bombastis, menanam pohon apa saja bisa tumbuh dan berkembang di tanah Indonesia.

Karena itu, hanya orang-orang yang punya selera tinggi, high teste saja yang punya cita-cita membangun rumah berbahan utama kayu. Hanya orang-orang yang memiliki sentuhan seni yang terpikat untuk berlama-lama tinggal di rumah kayu. Juga hanya orang-orang yang berduit yang sanggup membangun rumah kayu. Tetapi, kayu atau non kayu itu adalah pilihan. Membangun rumah, peristirahatan, itu sudah bisa menggunakan bahan non kayu semua.

Atap yang biasa menggunakan reng dan usuk saja sudah diganti dengan baja ringan. Genting pun sudah tidak lagi susah-susah membakar tanah liat, sudah ada sintetiknya, lebih ringan, lebih tahan bocor, lebih mudah perawatan, dan lebih murah jatuhnya. Kayu-kayu blandar, kuda-kuda, sabuk, tiang, semuanya bisa diganti dengan beton. Lebih awet, lebih keras dan juga bisa dibentuk dengan bermacam-macam model.

Tetapi yang berselera “kayu” juga tidak akan ada habisnya. Lebih klasik, lebih elite, lebih high teste, lebih berseni, lebih eksklusif. Lihat saja dalam satu deretan perumahan, atau di tepi jalan, ada satu saja rumah dengan dominasi unsur kayu, pasti langsung menyita perhatian! Langsung kelihatan unik dan antiknya. Kayu itu cantik, feminin, dan tidak membosankan.

Nilai plus lain dari rumah kayu adalah: dingin di musim panas, hangat di musim dingin. Tidak salah jika rumah-rumah di Jepang dan Korea, banyak menggunakan unsur kayu. Restoran dan rumah mewah di Swiss juga menggunakan bahan pinus lebih banyak. Kayu itu menyimpan panas dan juga dingin, sehingga memberi aura kehangatan.

Ada dua pilihan, untuk membuat rumah kayu. Pertama, rumah kayu tradisional, yang bisa ditemui di Jawa tempo dulu. Rumah Kudusan, rumah ukir, rumah limasan, rumah ceregancet, rumah joglo, rumah pendopo, jineman, gazebo, rumah panggung, rumah gadang, rumah adat di deretan Sumatera, rumah Sulawesi, semuanya menggunakan material kayu. Makin bagus, kayunya makin kelihatan mewahnya. Makin panjang dan lebar kayunya, makin terasa sensasi seninya. Makin banyak prosentase menggunakan kayu, makin mahal kesannya.

Kedua, rumah kayu modern, atau modern wooden house, yang biasanya menggunakan desain minimalis, tanpa banyak ornamen ukiran. Kombinasi dengan kaca dan motif yang lurus-lurus, tanpa plengkung. Dinding, lantai, teras, pagar, pintu, semuanya berbahan kayu, tetapi betul-betul tidak menonjolkan ukiran.

Ketiga, rumah kayu kombinasi, rumah kayu kontemporer. Desain modern, belum pernah ada, lurus-lurus, tetapi ada banyak tempelan seni ukir dan lukiasn yang mengkamuflase lurus-lurus. Ini yang sedang berkembang dalam dunia perhotelan. Dibuat cottage, bungalow, vila, yang berbahan baku kayu, dari dinding, lantai, kuda-kuda, reng, usuk, tiang, konsol, wuwungan, blandar, semuanya berunsur kayu.

Anda memilih yang mana? Sama-sama cantik, sama-sama indah, sama-sama menyatu dengan alam? Turuti kata hati Anda, jangan terpengaruh dengan siapapun. Yang patut dicatat, sebagai tips adalah: Pertama, pastikan berasal dari bahan yang baik, kayu keras, seperti jati, bengkire, meranti, kayu hitam. Itu sudah jaminan mutu. Material yang berkualitas, akan mempengaruhi daya tahan, estetika, dan kemudahan maintenance. Kelas di bawah kayu-kayu itu adalah mahoni, nangka, klengkeng, trembesi, dan kamper.

Kedua, pilih finishing yang alami, perlihatkan serat-seratnya, pilih warna melamin sebagai penutup permukaan kayu yang pas, sesuai selera. Bisa terang, bisa gelap, bisa clear, bisa mengkilap. Pastikan lokasinya dibangun di mana? Karena itu menentukan estetika dan seni rumah kayu.

Ketiga, gambar sketsa dulu, biar tidak menyesal di saat rumah sudah jadi dan berdiri. Kayu tidak seperti plester semen dan batu. Kalau sudah dipotong, jangan sampai direvisi di tengah jalan. Karena kayu sambungan itu membuat rumah itu tidak kokoh, cacat, dan tidak keren.

Keempat, pastikan tinggi rumah dari permukaan tanah dengan umpak. Lebih tinggi lebih gagah, tongkrongannya lebih keren. Tetapi kalau penghuni rumah itu ada yang usia lanjut, lebih baik umpak jangan lebih dari 40 cm.

Kelima, hitung budget dulu, pastikan sampai “serah terima kunci”. Karena banyak yang tidak ngeh, misalnya ternyata hitungan itu belum termasuk atap? Belum termasuk usuk reng? Belum termasuk macam-macamnya. Silakan berpikir, berkreasi, bermimpi dengan rumah kayu yang indah mempesona.(*)

Leave a Reply